Iran Pamerkan Peta Kota-kota Israel yang Akan Jadi Target Serangan - SINDOnews Internasional
Teheran, SINDOnews Internasional – 15 Februari 2026
Pada acara peringatan Hari Revolusi Islam ke-47 di Teheran, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran secara terbuka memamerkan peta digital raksasa yang menunjukkan koordinat kota-kota utama Israel sebagai target potensial serangan rudal balistik. Pameran ini memicu kecaman keras dari Israel dan sekutunya, memanaskan ketegangan di Timur Tengah yang sudah memanas akibat konflik Gaza dan serangan Houthi di Laut Merah.
Peta tersebut secara spesifik menyoroti kota-kota seperti Tel Aviv, Haifa, Yerusalem, dan Beersheba, dengan garis merah menandai zona dampak rudal hipersonik seperti Fattah-2 dan Kheibar Shekan. Komandan IRGC, Jenderal Hossein Salami, menyatakan dalam pidato, "Zionis harus tahu bahwa setiap agresi mereka akan dibalas dengan hujan api yang tepat sasaran. Peta ini adalah peringatan, bukan ancaman kosong."
Iran mengklaim pameran ini sebagai respons atas serangan udara Israel terhadap fasilitas nuklirnya di Natanz bulan lalu, yang menewaskan 12 ilmuwan Iran. "Kami siap membela diri dengan kemampuan asimetris terbaru," tambah Salami, merujuk pada stok ribuan rudal yang telah diuji coba sejak 2025.
Israel langsung bereaksi. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebutnya "provokasi barbar" dan memerintahkan kesiapsiagaan tertinggi di Iron Dome serta sistem pertahanan multilayer. "Iran bermain dengan api nuklir. Kami akan hancurkan ancaman ini sebelum terlambat," tegas Netanyahu dalam konferensi pers darurat. AS, melalui juru bicara Gedung Putih, mengecam Iran dan menjanjikan dukungan militer penuh bagi Israel, termasuk pengiriman tambahan baterai THAAD.
Analis militer memperingatkan bahwa eskalasi ini bisa memicu perang regional. "Iran punya rudal jangkauan 2.000 km, tapi Israel superior di pertahanan udara. Namun, intervensi Hizbullah Lebanon bisa ubah dinamika," kata pakar dari Institute for National Security Studies (INSS) Tel Aviv. Harga minyak dunia naik 5% menyusul berita ini, mencapai US$95 per barel.
PBB mendesak kedua pihak untuk menahan diri, sementara Uni Eropa menyerukan dialog melalui IAEA. Hingga berita ini disusun, tidak ada laporan serangan langsung, tapi pangkalan militer Israel di Mediterania dilaporkan dalam status siaga merah. (Redaksi SINDOnews Internasional/monitor internasional)